Sahabat Sesurga

Seperti doaku di awal Ramadhan, "yaAllah berilah aku sebuah makna hidup baru yang membuatku dan sekitarku lebih baik lagi."


Ya.. Menginjak usia krusial ini, gue mulai tersadar, betapa pentingnya memiliki sahabat. Akhir pekan kemarin, gue hadir di sebuah acara yang bikin gue awkward untuk masuk ke dalam acara tersebut haha, yap acara pra nikah.


Sebenernya sih udah kali kedua hadir ke acara seperti ini. Bedanya yang pertama gue benar-benar merasa "ini bukan acara gue banget" Dimana gue disajikan beberapa pertanyaan dari audiences, yang bikin gue bertanya-tanya serta terheran-heran dalam hati sambil bilang "seharusnya pertanyaan itu lo simpen sendiri."


Karena gak kuat akhirnya gue memutuskan untuk pergi dari ruangan tersebut hahaha. Apaan sih lebay banget yaa, tapi beneran kali pertama gue ngerasa ini acara aneh banget, mungkin kondisi psikologis gue belum menerima bahwa ilmu pernikahan itu seumur hidup.

Menikah itu bukan tentang pertemuan antar laki-laki dan perempuan yang saling mencintai, tapi laki-laki dan perempuan yang siap untuk saling melengkapi, sevisi misi dan bersiap sesurga.


Dulu gue bercita-cita bikin rumah di surga. Sebenernya sih kayak pondasi orang tua gue supaya gue memahami dan istiqomah untuk sholat 5 waktu. Ibu gue pernah bilang dulu waktu baru masa gue haid (maaf) "ibu tuh pengen kita sehidup sesurga, nanti kamu cari laki-laki yang selalu menjaga sholatnya, menyayangi ibunya, mau sehidup sesurga ya dan laki-laki yang bertanggung jawab atas komitmen yang udah dia katakan."


Lalu di minggu lalu nasihat ibu gue terjawab, ya memang ketika kita berniat untuk melabuhkan diri pada seorang laki-laki pilihlah yang memiliki komitmen. Dengan segala drama hidup akhirnya gue paham dan mulai menata hidup yang udah gue mulai melalui cleansing diri. Bisa dibaca di tulisan gue sebelumnya tentang sholehah sendirian gak keren keleus..


Oh ya balik ke acara seminar tadi. Jadi si narsum pertama membahas bagaimana cara kita berlatih untuk menjadi seorang pasangan yaitu dengan cara bersahabat. Bersahabat di sini adalah dengan memiliki sahabat sesama jenis. Seperti yang kita pahami, persahabatan laki-laki dan perempuan itu banyak ...... nya.


Gak dipungkiri, bahwa ketika laki-laki normal dan perempuan normal yang berada dalam satu circle berlama-lama maka akan tumbuh "sesuatu" u know what i mean lah..


Justru yang tidak muncul sesuatu itu yang dikhawatirkan. Wajar, sangat wajar, apabila timbul rasa tertarik. Karena memang fitrahnya Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling berbagi kasih sayang (ketika sudah mahrom). Bener gak ya mahrom(?) Atau mukhrim(?) Ya pokoknya terikat dalam suatu janji yang disebut ijab qabul.


Duh panjang amat... pada intinya, bersahabat lah karena dengan memiliki sahabat kita akan berlatih macam training untuk saling memahami karakter dan menerima satu sama lain. Ketika dalam keadaam futur, maka sahabatmu lah yang akan mengingatkan. Sebaik-baiknya sahabat yaitu yang akan selalu mengingat sahabatnya dalam doa.


Sepengalaman gue, sahabat gue memang sedikit banyak cerminan gue. Dia yang cuek tapi care, dia yang mau menerima bahwa gue punya kekurangan dan dia juga punya kekurangan, yang terpenting saling mengajak untuk menjadi pribadi yang lebih baik.. Katanya sih jodoh itu juga cerminan diri xixixi.


Kenapa gak sama orang tua atau keluarga inti? Keluarga inti apalagi orang tua adalah mereka yang mau tidak mau menerima segala kekurangan kita. Karena memang fitrahnya orang tua untuk menerima anaknya seperti apapun. Misalnya anaknya yang suka ngeyel, cerewet, susah diatur, ya pokoknya yang kurang baik lah. Pasti orang tua yang paham peran orang tua sebenarnya akan menerima bagaimana pun anaknya.


Masa iya orang tua gak mau nerima? Ya bisa aja dan ada aja yang seperti itu, tapi pada dasarnya sih orang tua tersebut belum selesai dengan masa lalunya. Itulah pentingnya cleansing diri sebelum memutuskan untuk menikah. Dimana-mana ibu pasti sayang sama anaknya. Ayah akan menjaga dan menafkahi anaknya serta kakak yang akan menyontoh orang tuanya untuk memberikan kasih sayang yang sama kepada adik-adiknya.


Lalu gue ingat abang-abang gue yang mempunyai cara masing-masing untuk menunjukan rasa kasih sayang dan perhatiannya ke gue :") makasih ya abang, gue juga sayang banget sama kalian :")


Ayahku yang rela gak pake jas ujan dan dipakein ke aku, karena jas ujannya hilang di stasiun jadi cuma satu jas ujannya. Kejadian ini sewaktu jemput aku les di suatu malam ketika hujan turun :")


Ibuku yang marut wortel sampe tangannya keparut untuk buat sup ceker kesukaanku saat aku demam dan susah makan  :")


Terima kasih banyak untuk sahabat-sahabat gue sudah mau menerima segala kekurangan gue. Gue sayang kalian semuaaa.


Terima kasih yang sudah hadir membersamai suka duka, berebut oksigen bersama, menikmati perubahan atmosfer bersama dan menyatukan frekuensi.. Bahagia selalu ya gaes. Doaku semoga kita bisa sesurga jugaa.. Ingatkan kelingking kita pernah bersentuhan dalam satu baris lurus sambil mengucap aamiin..


-Sebaik-baiknya sahabat yaitu yang mengingat diri kita dalam doanya.-


Surat dari seorang anak kelas 2 untuk sahabatnya di kelas :")

Komentar