Sholehah Sendirian? Gak Keren, keleus!


Hallooo!! Di siang yang agak gloomy, shine dikit dan dengan segala kemalasan hambaMu ini gue teringat akan sesuatu yang baru aja gue baca. 
***

Setelah melewati beberapa lembar buku yang lagi gue baca akhir-akhir ini dan twalaaaa ternyata kegundahan hati gue sudah sedikit terjawab dari buku tersebut. Agak sedikit awkward pas gue mau buka halaman pertama, karena ini buku pertama gue tentang pernikahan >,< ada angin apa gue tiba-tiba baca buku beginian ?

Yap, karena kesadaran gue akan pentingnya mencari ilmu sebelum gue atau lu di sana memasuki usia yang seharusnya sudah pantas menikah. Rata-rata dari manusia yang gue kenal dan pernah berebut oksigen bareng gue mereka berpendapat bahwa perempuan maksimal 25 tahun deh untuk menikah karena kalau lebih dari usia itu terhitung telat. Tet tooott....

Setelah gue itung-itung usia gue TERNYATA gue dikit lagi ganjil 23 tahun! Hahaha. Gak kerasa ya perasaan kemaren mak gue baru ngubur ari-ari di depan rumah (?)

Gue konsul ceritanya ni ke temen seperjuangan gue di sekolah. Oh iya btw gue saat ini menjadi seorang pendidik di sekolah dasar islam inklusi di Depok Jawa Barat. Sebenernya sih gue kepedean aja tulisan gue ini bakal dibaca orang se-Indonesia Doang. Ya, gue sebagai guru pendamping (GP) atau kadang disebut shadow teacher. Menjadi seorang GP itu gampang-gampang sulit guys! Karena lu harus pinter jaga mood, jaga emosi dan bisa berperan menjadi aktris papan atas. Misalnya ni lu lagi murka dengan kehidupan ini, tapi lu gak boleh tu membeberkan kemurkaan lu di depan murid lu apalagi yang basically they’re special needs. Bener gak tu ke-sok-inggrisan gue. Pada riset yang udah gue lakukan, tingkat stress GP itu cukup tinggi guys! Karena kita sebagai pendidik gabisa milih mau megang atau mendidik murid special needs seperti apa dan gangguan jenis apa yang ia alami.  

Akhirnya gue punya healing tersendiri untuk melampiaskan kejenuhan, emosi gue dan segala jenis unek-unek gue ketika mengajar, yaitu dengan bercerita dengan salah satu, dua tiga empat dan banyak guru yang bisa menampung emosi gue. Hehehe. Dari beberapa hasil sharing kami gue mendapat pelajaran dan ilmu baru untuk mengetahui apa saja indikator diri sudah atau belum siap untuk menikah. Ya memang gak nyambung sama opening, karena kita gak akan bahas soal inklusi lagi melainkan indikator dan apa aja yang harus dilakukan sebelum kita menjadi seorang pasangan untuk pasangan hidup kita kelak.

    Menurut buku yang udah gue baca –azek udah kek orang pinter belom nih-, hal pertama yang harus kita lakukan adalah CLEANSING. Yap bersih-bersih, tapi bukan bersih-bersih rumah, sekolah atau RT kalian ya. melainkan cleansing ur self. Bersih-bersihnya ini meliputi :

       1.  Orang tua

Kenapa orang tua ya? Jadi menurut penulis buku tersebut kita harus bisa menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua. Apa hubungannya ya? Ya jelas ada hubungannya, karena orang terdekat kita adalah orang tua. Bagaimana pun orang tua kita dengan segala kelebihan serta kekurangannya kita harus bisa menerima bahwa mereka adalah orang yang sangat berperan penting dalam kehidupan kita. Allah menitipkan kita di orang tua, betul? Melalui kasih sayang yang dengan caranya masing-masing orang tua kita pun akan memberikan yang terbaik untuk anaknya, dengan catatan dengan segala kelebihan serta kekurangannya. Orang tua bukan malaikat yang bener-bener tunduk kepada Allah SWT, jadi kita harus bisa menerima segala yang ada di orang tua kita dengan baik. Apabila ada kesalahan orang tua yang terjadi kepada kita, mereka mungkin tidak menyadari atau bahkan menurut mereka caranya itu sudah tepat namun pada kenyataannya kita sebagai anak merasa “cara ini gak banget buat gue” balik lagi ke pasal satu “orang tua bukan malaikat, mereka memiliki kelebihan serta kekurangannya masing-masing.

Kadang kalau kita lagi ada masalah dengan orang tua, bawaannya pengen kabur aja, lari dari masalah gitu. Tapi di buku itu ketika kita memutuskan menikah untuk menjauhi masalah dengan orang tua berarti kita akan menciptakan masalah baru di rumah tangga kita nanti. Well, kita harus bersikap logis dan jangan menggunakan emosi ketika akan memutuskan sesuatu. Kalau yang masih canggung ngobrol sama orang tuanya, ya bisa dicoba mulai dari sekarang dijalin komunikasinya. Gimana pun juga kita tercipta dari rasa cinta kedua orang tua kita. 

Kalau orang tuanya sudah meninggal? Bisa dengan cara menuliskan apa saja yang menjadi unek-unek kalian di buku catatan. Apa aja sih yang ditulis? Meliputi semua indera kita. Misalnya ada perkataan mereka yang menyakitkan hati, coba ditulis. Semuanya pokoknya hal-hal yang rasa dendam di hati kita, tulis semuanya. Setelah ditulis, kita bisa melampiaskannya dengan cara seperti duduk dan berbicara di depan orang tua kita. 

Keluhkan semua unek-unek kita dengan niatan yaAllah aku mau bersikap jujur, membuang emosi-emosi negatifku di masa lalu tentang orang tuaku dan menjadi pribadi yang lebih baik di kemudian hari. Anggaplah di hadapan kita ada orang tua kita, berbicaralah dengan bahasa yang baik dan tidak menggunakan emosi sehingga terkesan menyalahkan dan menghina orang tua kita. Perlu diingat, dosa kita terhadap orang tua pun jauh lebih banyak. Mereka yang rela menggantikan popok saat tengah malam, menyusui kita tiap jam dan mencari nafkah baik demi keberlangsungan hidup kita.


2.  Masa Lalu 

Yap, masa lalu. Yang pernah dilalui dan berhubungan dengan kekecewaan di masa lalu. Kita pasti pernah disakiti atau menyakiti orang lain. Namun kadar rasa sakit yang dialami tiap orang pasti berbeda. Ada yang disakiti udah dari 10 tahun lalu sampai sekarang masih aja kesal dan dendam. Misalnya korban bully, putus cinta, dikhianati teman, apapun itu yang berhubungan masa lalu yang kurang menyenangkan. Memang agak sulit untuk memaafkan ketika kita disakiti sampai sakit sesakit-sakitnya. Namun, apa hak anda untuk gak memaafkan manusia sedangkan Allah aja maha pengampun? Merasa paling benar kah? Maaf jika ini terlalu menyinggung, namun pada kenyataannya kayak gitu. 

Kita terlalu sibuk mencari kesalahan, rasa benci dan kesedihan di masa lalu padahal Allah udah nyiapin hidup yang lebih baik di masa depan namun perlu effort yang besar pula untuk mendapatkannya. Ibarat kita pengen masuk surga, disana apa aja halal, udah gak ada kewajiban, pokoknya indah-indah banget deh. Tapi sholat kita masih suka ditinggalin? Lah emangnya masuk surga bisa pake orang dalem? Hello banget kan. Semua butuh effort. Bahkan seorang bayii pun melakukan effort menangis untuk bisa mendapatkan seteguk susu. Ibaratnya alarm untuk ibu kalau bayinya nangis berarti haus atau ada sesuatu yang mengganggu dirinya kayak popoknya penuh atau kegerahan misalnya? Masa kita yang udah segede ini, gak pake effort? jangan sampai hanya karena tidak memaafkan diri sendiri dan orang lain jodoh kita gak hadir-hadir huhuhu, naudzubillah..

Bahasa sederhana dari CLEANSING adalah TAUBAT! Iya betul guys taubat. Yaaa,,, pasti udah sering denger lah ya “laki-laki dan perempuan yang baik akan berpasangan dengan yang baik pula, pun sebaliknya.” Itu sangat berlaku guys, hukum alam dan sudah ditetapkan dalam Al-Quran. Jadi apa yang mesti diragukan lagiii?? Oh iya, cleansing itu sifatnya seumur hidup. Bukan berarti kalau udah dateng jodohnya ni udah selesai pula taubatnya. Ya enggak lah, enak amat, emang pasangan kita itu surga? Kalo udah hadir yaudah selesai... salah besar. kita boleh dan memang harus berhenti bertaubat ketika ajal telah menjemput. Ya ibarat kata kita tinggal panen hasil ibadah kita, sedekah kita serta doa orang-orang di sekitar kita.


Setelah cleansing kita masuk UPGRADING.. YAP,, bukan device kita aja yang harus di apgret tapi diri kita pun harus! Masa kita kalah smart dengan smartphone? 

Upgrading meliputi seluruh kehidupan yang kita jalani salah satunya:

Pendidikan

Jelas lah ya pendidikan penting banget banget bangettt... karena sejago apapun kita dalam suatu bidang akan lebih keren dan mantab bila kita mendapatkannya dari pakar atau ahlinya. Semua berdasarkan fakta bukan opini, ya memang opini juga ga kalah keren tapi tetap aja yang berdasarkan fakta, penelitian dan teori insyaAllah akurat. Pendidikan ini juga meliputi dunia dan akhirat ya, harus balance gak boleh miring sebelah timbangannya.

Sejujurnya gue adalah orang yang gak pernah dapet ranking ataupun prestasi gemilang kayak orang-orang. Gue bahkan kategori anak malas ketika di sekolah. Semua temen gue rajin sedangkan gue? Ya pernah rajin Cuma gitu. Setelah gue menemukan passion gue dibidang sosial dan psikologi gue baru tertarik untuk mempelajari karakter, kepribadian, masalah dan penyelesaiannya, ya pokoknya yang seru-seru tentang manusia deh.

Gue sadar, gue gak bisa stuck di sini terus. Gue harus melakukan sesuatu untuk merubah sedikit kehidupan gue untuk menjadi lebih baik. Walaupun yang gue rasakan progressnya itu gak signifikan meningkat hehehe. Setidaknya gue sudah mencoba untuk berubah dan merubah diri serta pola pikir gue yang kuno banget, dulu.

Jadi muslim yang cerdas, di mulai dari diri dulu setelah itu ajak orang lain untuk menjadi muslim yang cerdas juga. Karena pada dasarnya “sholehah sendirian itu gak keren sist” hihi

Perlu diingat juga upgrading pun sifatnya seumur hidup. Jadi kita gak boleh puas atas ilmu yang udah kita miliki sekarang yah guys! Karena semakin belajar semakin kita merasa “kok gue gak tau apa-apa ya sebelum ini?” sebenernya sih ada step satu lagi tentang SELECTING. Yap step memilih pasangan kelak.. tapi gue gak bisa jelasin disini karena kalau kalian penasaran bisa beli buku di bawah ini ya sejujurnya gue takut melanggar huhuhu... dan sepenuhnya, tidak ada niatan gue untuk promosi buku ini yaa,gue hanya merasa ini buku keren banget untuk meluruskan semangat dalam kebaikan !! ^^

take by me


Komentar