Suara denting jam memecahkan lamunanku. Percakapan dua orang tadi membuatku terinspirasi akan makna kisahku ini. Aku suka berbicara tapi tidak depan masa. Dua tiga orang cukup bagiku untuk menjadi pendengar setiaku. Kata orang aku ramai, bahkan acara sunatan tetangga sebelah kalah ricuh dengan pertemuan kami saat itu. Ya, aku suka keramaian. Di situ aku bisa menyerap energi-energi baru yang aku butuhkan untuk membuatku lebih bersemangat. Ku sebut diriku dengan si extrovert. Aneh bagiku melihat ada seseorang yang hanya asik dengan gadget padahal ketika rasa penasaranku muncul, aku intip layar gadget nya ternyata yang ia buka hanya menu utama.
***
Sore itu, tepat pukul 16.45 WIB aku tiba di stasiun yang paling ku benci. Dimana orang-orang bisa melanjutkan perjalanan mereka di berbagai stasiun tujuan yang berbeda-beda. Aku menunggu seseorang, ya dia yang paling setia mendengarkan celotehanku, saat itu. Dia pendengar dan aku pembicara serta sebaliknya. Tak jarang pula dia menceritakan kejadian ajaib yang ia rasakan beberapa hari, yang lalu. Kami selalu menyempatkan diri untuk bertemu, dengan tujuan saling berbagi kisah ajaib kami masing-masing.
“Kamu lihat itu?”
“Mana?”
“Mentari di hari ini.”
“Iya indah.”
“Belum tentu besok seindah ini.”
“Kenapa?”
“Belum tentu kita merasakan senja bersama.”
***
Jadwalku waktu itu sungguh tidak tepat. Aku belajar untuk menentukan pilihan berdasarkan prioritas. Rasanya tak nyaman bagiku, aku berharap bisa mengerjakan semua tapi sayangnya tidak. Ku rajut rasa percaya diri ini, ku tenangkan hati dan tentunya membentuk zona nyaman secepatnya. Bagaimana tidak? Aku bisa melanjutkan tanggung jawabku ini dengan syarat aku harus menjauh dari keramaian. Ya, apa yang harus kulakukan untuk bisa menerima kenyataan bahwa aku sudah tidak bersama di dalam sebuah keramaian?
***
“Gue dapet kerjaan di kantor lama dan dijanjiin megang cabang di daerah ujung pulau jawa.”
“Ya bagus dong, lo bisa ngembangin diri di sana.”
“Ah gue harus nyesuain diri di tempat tinggal baru, nyari tempat tinggal dan tentunya menyesuaikan pertemanan di tempat baru.”
“Yaudah coba dulu kalo lo gak nyaman cari di tempat lain. Lo harus bisa bangun zona nyaman lo di tempat baru.”
“Gak segampang itu. Gue juga....”
“Ya pokoknya learning by doing aja ok Darl!”
Pemberitahuan untuk pemberhentian stasiun berikutnya berbunyi, sayang sekali perbincangan tadi selesai hanya di situ saja. Lalu aku mencari informasi laluku di memori yang sudah sangat tertumpuk dengan hal-hal yang baru ku terima. Ternyata, setelah ku amati dan berdasarkan pengalaman pribadi, zona nyaman itu bisa diciptakan sendiri. Bahkan di tempat asing pun. Dengan cara kita membuka diri untuk orang lain, bersikap ramah terhadap apa yang terjadi saat ini dan mensugestikan diri agar bisa menerima kenyataan bahwa hidup harus selalu berjalan, maka zona nyaman itu pun akan terbentuk dengan sendirinya. Tidak perlu mengkhawatirkan apa yang belum terjadi, walaupun memang harus memiliki target kehidupan yang lebih baik lagi. Bahkan pesan dia untukku tentang masa senja bersama, saat ini menjadi zona nyamanku untuk tidak lagi berbagi cerita dan masa indah dalam menghabiskan prosesi pergantian pagi menuju malam itu bersama. Terima kasih telah menjadi pendengar setiaku. Semoga di sana, waktu untuk mendengarkanku juga dihitung secara adil sebagai amal shalihmu.
Aamiin.
favorite place in Lombok :3
what a beautiful place

Komentar
Posting Komentar