Tuhan
menakdirkan 20 tahun kebersamaan kami. Pergi bersama menghabiskan waktu untuk
membeli tanaman baru, menanamnya hingga muncullah bunga yang berwarna-warni. Tak
hanya itu banyak waktu yang kita habiskan hanya dengan pekerjaan-pekerjaan konyol.
Misalnya kau pernah mengajakku ke suatu tempat yang sebelumnya ku tak pernah
datang ataupun tahu tempat itu. Aku hanya menuruti apa yang kau suruh. Menelusuri
kota dengan motor tua yang terkadang membuat keringatmu bercucuran layaknya
hujan di bulan November. Tak jarang juga motor tua ini berteriak ampun kepada
kami disaat jalan terjal yang kami lewati tak sanggup dilewatinya. Tertawa lepas
membuat langkah kaki kami tak berarti. Lelah, keringat berjatuhan, hingga kesal
di dada seketika terbenam layaknya matahari yang hilang namun esok akan muncul
dan terbenam lagi.
Jika
“Langpur” (Belalang Tempur : sebutan kami untuk si Motor Tua) itu bisa mengeluh
mungkin dia lah yang paling ramai di kota teduh ini. “Jangan siksa aku, ku
mohon Tuan tak sanggup jika ku harus menompang badan tuan dan nyonya ku ini.” Begitu
kata Langpur kepada kami. “Tidak, kau harus tau Langpur bagaimana kerasnya
kehidupan, jika kau tahu hidup menjadi manusia kau akan berdoa untuk Tuhan
mengembalikanmu menjadi sebuah Langpur ku tersayang.” Jawabku kepada Langpur.
Kami
pun tertawa lepas dengan meningat memori-memori indah dulu. Aku yang polos
menurutnya dan Ia yang dewasa menjagaku mulai aku menangis hingga semua
menangisiku. Aku tahu betapa besarnya rasa sayangnya kepadaku. Mulai dari dulu
hingga detik ini. Kekonyolan-kekonyolan itu masih tersimpan baik di memoriku. Dia
yang melindungiku ketika Masa Orientasi Siswa saat aku duduk di bangku SMA. Saat
itu matahari pun belum menampakkan sinarnya. Bahkan kulihat sinar bulan masih
menyinari kota kami. Dengan berbalut kain tebal yang telah dijahit, dengan
Langpur kesayangan kami, dengan tas yang terbuat dari tempat sampahku saat itu
dan dengan cinta yang begitu besar darimu kepadaku.
Kulihat
banyak orang yang berlarian, kau tetap menenangkanku untuk tidak ikut berlari. Kau
bilang “Bila kau tergesa masalahmu tidak akan cepat berlalu. Maka ikuti saja
alurnya dengan tenang, layaknya gelombang air laut di pagi hari diiringi
sepoyan angin. Menerpa wajah mulusmu dengan tenang juga. Coba bayangkan jika
angin menerpamu dengan tergesa, apa jadinya? Wajah mulusmu ku yakin tak semulus
biasanya.” Lalu tangan lembut yang mendarat di dahiku itu mengusap pelan. Aku tersenyum,
untuk kesekian kalinya. “Terima kasih untuk cintanya.” jawabku dalam hati.
Siang
itu di bawah terik matahari, kau mengajakku untuk melihat bagaimana indahnya
alam ciptaanNya. Kau bilang kita wajib bersyukur untuk tetap bisa menikmati
keindahanNya. Untuk kesekian kali aku merasa Oh dunia Oh Tuhan terima kasih
atas nikmatMu. Terima kasih Tuhan untuk memberikanku cerita persahabatan yang
indah ini. Terima kasih untuk seseorang yang telah melindungiku entah sampai
kapan Tuhanku mengizinkan. Terima kasih untuk seseorang yang telah mendidikku
untuk mengenal indahnya dan kerasnya kehidupan. Terima kasih Ayah J dari anak bungsumu
yang akan segera wisuda. Mohon maaf selalu merepotkan. Mohon maaf telah
menabrak angkutan umum dengan kendaraan yang telah kau percayakan kepadaku. Dengan
begitu aku lebih berhati-hati untuk mengendarai di kemudian hari.
(Ajeng Tyastia, 20th)
Komentar
Posting Komentar