Ketika Air dan Iman Berbanding Lurus

Dear Allah..

Di malam sendu ini aku akan mengadu . Mengadu tentang keluh kesahku dikotaku ini.

Tepat 18:34 aku mulai mengerjakan tugas seabrek ini. Tidak ,bukan soal ini yang ingin ku utarakan yaAllah. Melainkan hal lain. Aku senang bisa banyak mengerjakan tugas yang telah dosen berikan, karena itu berarti aku adalah seorang mahasiswa.

"Siw.. ayo makan" suara ibuku dari ruang makan yang samar dan menembus diruang tamu dimana tempat aku menyelesaikan tugas-tugas ini..
"Iya bu bentar lagi nanggung" sahutku

Satu jam kemudian, ibu memanggilku lagi "Ayo siw ibu laper ni". Langsung kuhampiri ibuku yang sedang mengupas mangga kesukaanku hihi. Kuambil daging mangga yang sangat manis. Kata ibuku bagian termanis daging mangga adalah bagian ujung-ujungnya, yang berbentuk 180derajat.
"Bu nanggung ni bentar lagi.." kataku sambil memencet dispenser untuk minum. "Ih jangan pergi lagi sini dulu"lalu aku mulai duduk di meja makan sebelah ibuku duduk. Lalu kami makan malam bersama. "Cobain ni siw pindang ikan patin yang ibu sering ceritain" Lalu kulahap perlahan dan ternyata rasanya aneh kaya kurang bumbu gitu. "Suka kan?" tanya ibuku. "Suka bu." jawabku. "Enak siw?" dan aku cuma mesem-mesem supaya gak berlanjut lagi pertanyaannya.

Selesailah kami makan malam. Dan sempat berbincang layaknya ibu dan anak. Biasa lah ada aja yang dibicarain kalo lagi di meja makan. Entah itu tentang kegiatan seharian tadi sampe tiba dirumah. Gak lama aku putuskan untuk melanjutkan mengerjakan tugas lagi di ruang tamu.

Selang setengah jam ibuku menghampiri. "Siw ko ibu penasaran ya air pompa ngisi ke toren apa engga" Aku diam dan langsung menoleh "Ha? kenapa bu?". "Masa tadi ibu cuci tangan airnya gak ngalir" Jariku diatas keyboard langsung terhenti. "yang bener bu? cek yuk". Dan kami langsung menuju lantai 2 untuk melihat keadaan toren kami.

"Bawa senter siw" Segeralah aku mengambil senter dikamar. Dan kamipun memutar tutup toren untuk melihat berapa banyak air yang ada didalam situ. TERNYATAAA.....

"Ibu aku sedih" ibuku bingung dan langsung mengambil senter yang ada ditanganku . Segeralah ibuku melihat kearah dalam toren tersebut dan "Astaghfirullah" segeralah kami mengecek dan memastikan apakah kran tertutup apa tetap terbuka. Dan ternyata terbuka namun air sangat sedikit yang mengalir ke toren kami. "Astaghfirullah.. Air siw" kamipun berpelukan. Ini kali pertama kami mengalami minimnya jumlah air. Sebenarnya bukan minim namun berkurang. Ya Allah sedih sekali, tolong ya Allah berikan kami air bersih yang cukup tidak kurang dan tidak lebih.

"Orang Depok udah banyak yang gak beriman ni siw makanya dikasih cobaan berupa minim air ini"
"Coba siw kemarin dimana-mana hujan kan? Depok engga"
"Banyak-banyak istighfar ya siw"


Sekian

Komentar