Dimana Cinta

"Jangan pilih jatuh cinta
Namun bangun cinta sampai ke surga"
Kalimat itu persembahan dari Abdi(teman dekatku) untuk Arti(temanku yang baru saja menikah).

Senja mulai menampakan rupanya. Keringat yang mengalir deras mulai satu persatu menyerap dipermukaan kain katun. Rasa lelah akan segera terobati, dengan kehadiran manusia yang akan menggiringnya ke surga.

Ya, kamilah keluarga kecil yang bahagia. Ayah, ibu, 2orang anak laki-laki dan 1orang anak perempuan. Kami tinggal bersama dirumah sederhana ini. Alhamdulillah segala kebutuhan terpenuhi, cukup,tak kurang dan tak lebih.

#greeeng, suara motor tua yang mengantarkan ayah ke kantor telah terdengar.
Ayah dataaang,kami menyambut dengan gembira.
"Ayah bawa bakwan kesukaan adik, tahu isi pedas  kesukaan mas-mas."
"Yeaaay, terima kasih ayah." Kami pun tertawa kegirangan membawa plastik transparan dengan balutan kertas putih yang berisikan gorengan favorit kami.

Segeralah kami pindahkan gorengan tersebut ke piring /lodor/. Supaya terlihat dan mudah diambil.
Aku sibuk dengan 5gelas ukuran sedang yang berisikan teh manis hangat. Kuputar air teh tersebut dengan sendok bayi sampai menghasilkan sedikit busa diatasnya.

"Maaas,tolong bawain aku keberatan"
"Siap bu boss"
Klonteng klonteng, suara lirih tabrakan gelas yang terjadi diatas /nampan/.

"Ayo duduk semua yang rapih. Dikit lagi adzan"
Ibuku hanya tersenyum disudut rumah dengan buku kesayangannya.
"Buka buka bukaaaa..."
"eeeiits ayo berdoa dulu.." ayahku memberi peringatan sambil menengadahkan kedua tangannya.

"aamiin.."
Aku mau ini... Aku juga mau... Minta kecap... Ibu kecap bu....

Keramaian seperti ini selalu terjadi saat buka puasa tiba. Saut sana saut sini, senggol gelas, rebutan kecap, kepedesan, sudah menjadi hal yang lumrah bagi keluarga kami.

Inilah kami, kami yang sederhana, kami yang sibuk rebutan gorengan, kami yang berisik beradu kecepatan untuk mendapatkan kecap dan kami adalah keluarga Tyas.

Dimana cinta kami? Cinta yang begitu sempurna dimata Allah. Keharmonisan keluarga yang sederhana, namun tidak lupa akan kebersyukuran.

Disini, dirumah ini. Sebelah timur kota Depok, ayahku membeli sepetak tanah dan dibangunnya rumah tempat kami berteduh. Tempat kami berbagi cerita suka. Tempat kami berebut gorengan. Tempat kami berebut game komputer. Dan tempat kami mengangkat telpon dengan kata "mau bicara dengan Tyas yang mana ya?"

Aku rindu, rindu sekali. Kehangatan keluarga ini. Ayahku yang lahir pada tahun 1958, ibuku tahun 1960, abang pertamaku tahun 1985, abang kedua tahun  1986 dan aku tahun 1995 :)

Jarak yang cukup jauh menjadi sedikit kendala. Dimana abang keduaku merantau setelah lulus SMA. Dan baru sekarang-sekarang inilah aku mengenal betul abangku yang kedua itu. Hobi gaming, sama sepertiku dan jago masak sama seperti ibu.

Dan abang pertamaku, hingga saat ini tinggal dekat dari rumah. Tiap hari kami bertegur sapa. Dengan tawa renyah bayi yang terlahir dari rahim istri abangku.

Kedua abangku kini telah dewasa, menyusun kehidupan baru bersama pasangannya masing-masing. Hidup bahagia dengan cara mereka masing-masing.

Mereka bahagia, sama seperti kebahagiaan dulu. Namun, terkadang rasa rindu ketika berebut gorengan pun muncul dibenakku. Kapan aku bisa seperti ini lagi? Melihat renyahnya tawa seperti ini, dirumah sederhana ini?

Waktu, masa lalu, masa depan dan saat ini sudah menjadi takdir. Takdir yang telah ditentukan Tuhannya untuk makhlukNya. Jadi, tiada mungkin mesin waktu doraemon bekerja semestinya. Khayalan semata. Namun, dalam doa kuselipkan selalu. Jaga kebahagiaan suci ini selalu untuk keluarga sederhana yang sekarang akarnya mulai menjalar. Aliri kebahagiaan disetiap sudut cabang akar yang ada.

YaAllah, aku mengerti tidaklah mungkin diulangnya kejadian masa laluku yang indah itu, tidaklah mungkin Engkau mengabulkan doaku untuk kembali kemasa itu. Namun, aku percaya setiap detik yang kulewati bersama mereka adalah kebahagiaan yang terbaharui.

YaAllah, aku rindu mereka, rindu sekali.

Komentar