“Mungkin kita akhiri pertemuan kali ini dulu, aku
lupa membawa jas hujanku” Ujar Arash. “Mungkin sebentar lagi akan turun hujan,
kalau begitu baiknya kau segera pulang Rash” Aku menambahkan.
“assalamualaikum, sampai jumpa esok hari kawan”
ujar Arash sambil menyalakan mesin motornya.
****
“Pernahkah kalian membayangkan jika suatu saat kita
mendapat tugas untuk mengajar anak jalanan?” semua terdiam, nampaklah wajah Kya
dan Arin yang kebingungan. “Anggap saja itu sebuah tantangan, tidak selamanya
Allah menitipkan nikmat ini kepada kita bukan?” Tak lama hujan pun turun dan
kami masih pada posisi duduk yang sama. Aku yang berada diantara Arin dan Kya
dan Leptop yang daritadi masih menyala. “Yas,bagaimana kalau kita cari tahu
mulai dari sekarang mengenai keberadaan anak jalanan disekitar sini? Aku takut
jika tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan” Kata Kya dengan wajah sedikit
gelisah. “Ya boleh dimasukkan ke dalam list
agenda kita, memang sesuatu yang direncanakan membuat hasilkan lebih
maksimal” jawabku untuk meyakinkan Kya.
***
“Aku sudah mendapatkan info mengenai tempat yang
akan kita kunjungi bulan depan,tak terlalu jauh dari rumah kita,Yas.
Bagaimana?” Ujar Arin sambil memegang ponselnya. “Kau dapat info itu darimana,Rin?
Tanya Kya. “Pamanku pernah menjadi relawan seperti korban bencana alam, namun
Ia juga mengenal beberapa komunitas mengenai anak jalanan.” Jawab Arin yang
masih terpaku pada ponselnya.
“Tyas... aku dengar Arin sudah dapat tempat untuk
observasi nanti ya?” tanya Arash yang hampir saja membuatku terkejut. “Iya
Rash, mungkin mingggu depan kita sudah bisa mulai untuk Survei tempat.”
Jawabku.
***
“Bismillah,
ini hari pertama kita untuk mengajar teman-teman baru disini. Aku harap
kita bisa memberikan yang terbaik untuk mereka” Ujarku sambil memeluk Arash,Kya
dan Arin. “InsyaAllah Yas” jawab singkat mereka dalam waktu bersamaan tanpa
skenario belaka.
“Oke teman-teman , perkenalkan aku Ka Tyas, Ka Arin
, Ka Arash dan Ka Kya.” Perkenalan singkat kami dimulai dengan perkenalan nama
, asal sekolah kami dan tujuan kami disini.
Ada 9orang anak disini yang rata-rata kelas 3-4SD.
Mereka sangat antusias mendengarkan sosialisasi yang kami berikan. Tak seperti
yang kami bayangkan sebelumnya, kebahagian dan respon positiflah yang kami
dapat disini. Kami sangat beruntung ,karena Allah telah menakdirkan kami semua
berkumpul di masjid sederhana yang terletak di jalan Srengseng Sawah ini. Lelah
memang setelah pulang sekolah kami menyempatkan diri untuk berbagi kebahagiaan
disini, namun semangat dan minat belajar merekalah yang menjadi motivasi
terbesar kami. Disini kami sama-sama belajar tak ada satu pun yang merasa
hebat.
***
Hari itu tepat hari Rabu , masih terngiang sekali
dipikiranku. Hari dimana kebersamaanku bersama ketiga sahabatkku dan adik-adik
disini tepat satu minggu lamanya. Tema hari ini tentang Menghargai Setiap
Manusia.
“Vira....” Sambut adik-adik sekolah Ceria begitulah
sebutan untuk pertemuan kami. Aku dan ketiga sahabatku hanya bisa diam, tak
mengerti mengapa mereka sangat antusias dengan kehadiran Vira?
“Jadi ka,Vira ini juga sering berkunjung ke kampung
kami. Ayah Vira juga sering bawain kami Ayam Crispy.” Jelas Niko kepada kami mengenai Vira. Tanpa diberi
perintah Vira pun dengan sopan bersalaman dengan Aku dan ketiga sahabatku.
Segeralah Vira duduk diantara adik-adik disini.
Disela pengajaran , “Ka.. Sebentar aku panggil Mang
Ojo dulu ya” Ujar Neo sambil berlari keluar Masjid menuju pekarangan Masjid dan
mendekati mobil Taruna silver milik Vira.
Dan ketika itu juga, aku yang berusaha memangku
Vira , Arin dan Kya membantuku untuk menggendongnya dan Arash pergi mengejar
Niko. Aku kaget,sungguh kaget. Ketika aku memangku Vira dan membuka topi merah
bertulisan “Vira” dengan motif bunga-bunga itu. “Ariinn.. Vira sakit kanker”
ujarku penuh kesedihan setelah membuka Topi merah tadi. Arin dan Kya pun
memelukku bersama Vira yang sampai saat ini belum tersadarkan diri.
“Maaf mba, saya bawa Vira pulang duluan ya” ujar
Mang Ojo sambil membopong tubuh mungil Vira kedalam mobil.
Setelah menutup pertemuan hari ini,tak lupa kita
menitipkan doa untuk Vira. Dengan penuh hikmat dan sedikit deraian air mataku
,Kya dan Arin. Arash yang masih terlihat tertekan dengan keadaan wajah tampan
si bidadari di sekolah ini. Kamu cantik,mengapa Allah menakdirkanmu seperti
ini?
Sebulan sudah kebersamaan kami di Sekolah Ceria
ini, waktunya Aku dan ketiga sahabatku menjalankan rutinita sebagai murid
seperti biasanya. Namun, sudah seminggu ini aku tak melihat kehadiran Vira.
Vira yang biasanya hadir 3kali dalam seminggu ini tidak hadir lagi. Mungkin
Vira sedang butuh istirahat cukup,piikirku.
***
Sebagai ucapan terima kasih aku dan ketiga
sahabatku berniat untuk memberikan souvenir untuk adik-adik disini setelah
pembagian sertifikat dan penyelesaian laporan belajar mengajar kami disini.
Tepat hari Jumat siang aku dan ketiga sahabatku sampai di jalan Srengseng Sawah
dimana aku bertemu dengan Niko pertama kalinya. Namun, suasana hari ini sedikit
berbeda. Tak terlihat satu orang pun disini. Dimana tempat Niko,Adit dan Fitri
beristirahat. Mungkin sekarang jadwal mereka untuk mencari uang,pikirku dalam
hati. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali kesekolah dan kembali ketempat ini
sore nanti.
***
“Ka Yas...” suara dari kejauhan memanggil namaku.
Ya Niko lah yang biasa memanggilku dengan sebutan Ka Yas. “Ka... Vira
meninggal. Tadi pagi aku dikabarin sama Ayah Vira supaya memaafkan kesalahan
Vira selama disini. Aku bingung ka ,Vira salah apa. Dan kita diajak kerumah
Vira dan ternyata rumahnya sudah ramai”
Sontak aku langsung mengingat tubuh mungil riang
dengan mengenakan topi warna merah itu ketika disambut riang dengan adik-adik
Sekolah Ceria.
Komentar
Posting Komentar