Air Mata yang Berbeda

Ketika itu angin berhembus kencang
Hingga menembus tulang rusuk
Aku yang terduduk dibelakang 
Diantara kerumunan orang-orang yang insyaAllah salih dan saliha
Aku bingung kenapa aku disni? 
Apakah aku pantas untuk bersanding bersama mereka?
Apakah aku sudah pantas dibilang sebagai wanita yang berperilaku baik? 
Apakah aku beriman?
Sedangkan membaca Quran saja mood sangat berperan
Ya Allah ,tuntunlah hambaMu ini

*** 
Ketika itu hari semakin gelap
 Angin pun semakin kencang menerpa tulang rusukku 
“tundukan kepala sejenak untuk mengintropeksi diri kita masing-masing”
Kalimat itu yang selalu kuingat ketika waktu muhasabah akan dimulai 
Jujur, aku malas sekali untuk mendengarkan rengekan orang-orang disekitarku ketika muhasabah berlangsung

Apakah mereka akan 100% berubah menjadi hati bagai malaikat?
Ah mustahil
Segeralah aku mengambil cermin yang besar
Cermin untuk berkaca pada diriku sendiri
“kau tidak akan memiliki hati yang bersih seutuhnya” 
“kau tidak akan menjadi sesosok bagai malaikat”
“itu mustahil”
“sama mustahilnya dengan kau mendaki gunung dengan 1kaki
Semua kalimat itu yang melayang layang dibenakku
 ***
Malas sekali mendengarkan “bendera kuning yang berkibar didepan rumah”
“sesosok yang terbujur kaku"
Halah semua itu , “hanya membuat hati sesak” pikirku dangkal
 ***
Namun,
Ada yang berbeda pada malam muhasabah itu
Ada yang benar-benar menghentakan hati
Ketika suara berat disana mengatakan
“YA ALLAH MAAFKAN HAMBAMU INI YANG BELUM BISA MENGANTARKAN SAUDARA KAMI UNTUK BERHIJAB”
"TEGAKAH AYAHMU YANG SEHARUSNYA DENGAN MUDAH MENGINJAKKAN KAKINYA MENUJU SYURGA NAMUN ALLAH MENGHALANGINYA KARENA ANAK PEREMPUANNYA TIDAK MENJULURKAN JILBABNYA"
 ***
Terhentaklah jiwa ini 
Mungkin terdengar Lebay
Tapi , tidakkah kau sadar? Masih banyak sekeliling kita
Mereka yang mengumbar aurat dihadapan orang banyak?
Sampai kapan ini terjadi?
 ~
Mungkinkah sampai saudara –saudara kita mengumbarkan auratnya di depan Tuhan mereka?
Mampukah air mata ini tidak menetes semilli pun bila hal ini benar terjadi?



Renungkanlah..

Komentar